Rabu, 12 Oktober 2016

Kegiatan PR mengenai

A.    Pembagian Tanggung Jawab PR
Public Relation (PR) adalah fungsi manajemen pada suatu perusahaan atau korporasi. PR memiliki peran dan tugas yang penting untuk kelangsungan perusahaan atau korporasi. Mulai dari menumbuhkan opini positif publik, memanajemen untuk mencapai tujuan yang spesifik sesuai harapan publik dan perusahaan atau korporasi yang dinaungi hingga tugas–tugas pengkomunikasian antara 2 pihak. Tentu bukan hal yang mudah melakukan fungsi tugas tersebut, maka dari itu diadakan suatu pembagian tanggung jawab pada PR. Pembagian tugas dan tanggung jawab di divisi PR dari suatu perusahaan biasanya didasarkan pada kebutuhan dan tujuan masing-masing perusahaan atau korporasi, sehingga pembagian tanggung jawab antar masing-masing perusahaan belum tentu sama. Namun, pada umumnya divisi PR di suatu perusahaan atau korporasi terdiri dari: Institusional Relation, Media Relations, Government Relation. Langsung saja ya, writer mengupas masing-masing point mengenai pembagian tugas dan tanggung jawab pada PR.
a.       Institusional Relations
Institusional Relations berarti PR yang menangani hubungan antar lembaga di masyarakat. Maka dari itu, institusional Relations sangat erat hubungannya dengan kemasyarakatan. Tanggung jawab dari seorang Institusional Relations adalah memantau perkembangan masyarakat di sekitar perusahaan. Karena pada dasarnya sebuah perusahaan memiliki tanggung jawab untuk tetap menjaga dan mengembangkan baik sistem maupun perkembangan masing-masing individu di dalam masyarakat tersebut. Hal yang dapat dilakukan oleh Institusinal Relation adalah dengan memberikan program kegiatan positif yang mampu memberdayakan masyarakat atau biasanya disebut sebagai program CSR. Program CSR dapat bergerak di berbagai bidang, seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi, sistem kemasyarakatan dan masih banyak aspek lain yang mampu dikembangkan melalui program CSR suatu perusahaan.
Contohnya: PT. Freeport merupakan sebuah perusahaan pertambangan di kawasan Tembaga Pura, Kabupaten Mimika, Propinsi Papua. Berada di tengah-tengah kawasan masyarakat tentunya PT. Freeport harus mampu mengembangkan keadaan alam dan masyrakat yang ada di sekitar perusahaan. Hal ini telah dibuktikan dengan melaksanakan tanggung jawab sosial kepada masyarakat dan lingkungannya, dengan cara memperkerjakan orang-orang Papua di area pertambangan dan melakukan konservasi lingkungan.
b.      Media Relation
Media Relations merupakan tanggung jawab seorang PR untuk bagaiamana menjalin kerjasama dan hubungan baik dengan media. Mengapa media relation penting di dalam sutau perusahaan? Menjalin hubungan dengan media juga merupakan hal penting karena media juga merupakan stakeholder. Selai itu, Perusahaan tidak bisa lepas dari opini publik. Apabila tercipta opini positif hal ini akan berdampak positif pada kelangsungan perusahaan, begitu juga apabila terdapat opini negatif dari publik. Maka dari itu, media relation berfungsi untuk mengatur arus informasi di media, sehingga mampu mengatur isu-isu yang terjadi pada suatu perusahaan.  Media Relation berfungsi untuk menjembatani antara informasi media dan masyarakat.
Contohnya: Saat produk kecantikan Ashanty Beauty Cream di klaim masuk ke dalam daftar produk kecantikan yang berbahaya, pihak media relation perusahaan tersebut langsung melakukan klarifikasi kepada masyarakat dengan menggunakan media  media dirasa efektif untuk hal ini karena pengkonsumsian media yang besar di era ini. Inilah salah satu fungsi Media Relation suatu perusahaan.
c.       Government Relation
Sutau perusahaan tentunya juga memerlukan perlindungan hukum. Maka dari itu, seorang PR harus mempunyai tanggung jawab sebagai Government Relation untuk menjaga hubungan baik dengan pemerintahan yang ada. Karena, pemerintah sebagai pemegang kekuasaan dianggap sebagai stakeholder. Dengan menjalin hubungan dan kerjasama yang baik dengan pemerintahan maka akan memudahkan perusahaan dalam mendapatkan perlindungan hukum atau yang lainnya seperti yang telah dikatakan di atas.




B.     Penyusunan Jadwal
Penjadwalan pada kegiatan PR merupakan pengelolaan waktu yang akan digunakan untuk melaksanakan program PR. Penyusunan jadwal sudah dimulai sejak merumuskan tujuan dan sasaran kegiatan. Hal ini dilakukan agar segala bentuk kegiatan mampu dilaksanakan secara sistematis dan dapat dipertanggung jawabkan. Terdapat 2 pertimbangan dalam menyusun jadwal kegiatan (Smith, 2005) :
a.       Waktu sesungguhnya yang dibutuhkan untuk menjalankan tugas-tugas untuk mencapai tujuan kegiatan yang telah dirumuskan
b.      Berbagai pola atau jenis serta frekuensi kegiatan yang akan dilakukan
Adapula cara-cara yang dapat dilakukan untuk melakukan penyusunan jadwal dalam kegiatan PR, yaitu:
a.       Mundur ke belakang dari tanggal kegiatan yang telah ditentukan
b.      Memetakan setiap kegiatan yang telah teridentifikasi dalam flow chart. Praktisi PR dapat membuat tabel daftar kegiatan yang akan dilakukan pada minggu 1, minggu 2 dan seterusnya.

C.    Anggaran PR
Menurut Cutlip, Center dan Broom (1994) menyatakan bahwa terdapat 4 kemungkinan dalam penyusunan anggaran PR:
1.      Anggaran dialokasikan berdasarkan jumlah keseluruhan anggaran perusahaan yang tersedia. Pada sebuah perusahaan tentunya memiliki anggaran dana tersendiri untuk kegiatan PR. Anggaran ini sudah direncanakan jauh-jauh hari dan jelas dalam penggunaan.
2.      Anggaran disusun berdasarkan keperluan untuk bersaing dengan perusahaan saingan.
3.      Anggaran disusun berdasarkan seluruh keperluan kegiatan kehumasan yang ada. Sebelum menyusun anggran, bagian PR terlebih dahulu menganalisis dan menyusun rencana program yang akan dijalankan, setelah itu PR mulai membuat rincian dana yang akan dianggarkan.
4.      Anggaran disusun berdasarkan kemungkinan keuntungan yang diperoleh perusahaan.

Selasa, 04 Oktober 2016

Fungsi PR

Fungsi utama yang dilakukan oleh seorang PR dalam organisasinya meliputi berbagai bidang dan segi, dibawah ini terdapat beberapa fungsi PR yang paling utama, yaitu :
  1. Menumbuhkan dan mengembangkan hubungan baik antara lembaga atau organisasi dengan publiknya, baik publik intern maupun extern dalam rangka menanamkan pengertian.
  2. Menilai dan menentukan pendapat umum yang berkaitan dengan organisasinya.
  3. Memberi saran kepada pemimpin tentang cara-cara mengendalikan pendapat umum sebagaimana mestinya.
  4. Menumbuhkan motivasi dan partisipasi publik dalam rangka menciptakan iklim pendapat publik yang menguntungkan organisasi atau lembaga.
  5. Menggunakan komunikasi untuk mempengaruhi pendapat umum.

Tujuan PR

Tujuan paling utama dari PR (Davis, 2003) adalah untuk mempengaruhi perilaku orang dengan secara individu ataupun juga kelompok disaat saling berhubungan, dengan melalui dialog diantara semua golongan, yang mana persepsi, sikap serta juga opininya sangat penting terhadap suatu kesuksesan pada suatu perusahaan. 

Tujuan PR (Rosady Ruslan, 2001) :




  1. Menumbuhkan dan mengembangkan citra suatu perusahaan yang positif untuk publik eksternal maupun juga masyarakat serta juga konsumen.
  2. Mendorong tercapainya rasa saling pengertian diantara publik sasaran dengan suatu perusahaan.
  3. Mengembangkan juga sinergi fungsi suatupemasaran dengan adanya PR.
  4. Efektif didalam membangun pengenalan merek serta juga pengetahuan merek.
  5. Mendukung bauran pemasaran.

Selasa, 27 September 2016

4 tahapan dalam proses PR

1.       Menentukan masalah (Finding the fact)
Tahap penelitian maksudnya mencari informasi, data yang menjadi pijakan dalam mengambil langkah selanjutnya.

2.       Perencanaan dan penyusunan program
Dalam tahap ini yaitu penyusunan program dan merumuskan tujuan program.

3.       Aksi dan komunikasi
Tahapan melaksanakan apa yang sudah di rencanakan, kapan, dimana, melibatkan siapa saja, dan media apa saja yang diugunakan.

4.       Evaluasi
Ini adalah tahap terakhir untuk mengetahui dan menilai apa yang sudah dilakukan, apakah sudah sesuai dengan apa yang direncanakan.

Senin, 29 Agustus 2016

4 model PR Grunig dan Hunt :


1.    Public Relations Theories / Press Agentry Model.
Selama abad ke-19 agen pers bekerja untuk membuat berita untuk mempengaruhi opini publik. Sebuah agen pers tidak melakukan survei atau penelitian mereka hanya ingin memanipulasi perilaku. Akurasi dan kredibilitas tidak prioritas dengan model semacam ini. 
Ini adalah komunikasi satu arah dari agen pers untuk publik mereka yang menggunakan persuasi dan manipulasi untuk mempengaruhi perilaku penonton.Metode ini biasanya digunakan oleh praktisi untuk salah satu cara komunikasi untuk menjual produk atau jasa tanpa analisis kuantitatif dari hasil.

2.    Public Relations Theories / Public Information Model.
Model ini masih merupakan metode komunikasi satu arah tapi akurasi pesan menjadi lebih penting. Model ini tidak mempertimbangkan informasi tentang penonton menjadi penting dalam membangun pesan dan rilis. Di awal abad 20 bergerak di antara beberapa praktisi public relations tercerahkan terhadap pesan yang lebih benar dan akurat. 
Menjauh dari setengah kebenaran dan kebohongan yang terang-terangan adalah pendahuluan untuk meningkatkan praktek etika. Meskipun model ini masih tidak memiliki metode untuk analisis kuantitatif dari hasil praktisi sedikit lebih cenderung untuk mengumpulkan umpan balik dari khalayak mereka. Model ini digunakan terutama oleh instansi pemerintah, unit militer, dan lembaga penegak hukum.

3.    Public Relations Theories / Two Way Asymmetric Model. 
Umpan balik yang lebih penting untuk praktisi tetapi tujuannya bukan untuk meningkatkan praktek organisasi melainkan untuk mempengaruhi sikap khalayak mereka. Setelah Perang Dunia I terjadi peningkatan dalam produk konsumen yang juga didikte kebutuhan untuk pemasaran yang ditargetkan khusus untuk pemirsa demografis atau pasti. 
Meskipun model ini menganjurkan dua praktisi cara komunikasi hampir tidak berpikir tentang komunikasi yang seimbang. Tujuan dari model ini adalah untuk masuk ke psikologi penonton mereka sehingga pesan dapat disesuaikan untuk mendapatkan reaksi yang paling efektif. Ini adalah metode yang paling banyak digunakan oleh pengiklan sepanjang dunia.

4.    Two Way Symmetric Model.
Tujuan dari model ini adalah dialog tidak monolog. Umpan balik bahwa organisasi mengumpulkan digunakan untuk mengubah praktik organisasi.

Negosiasi, resolusi konflik, saling pengertian, dan saling menghormati antara organisasi dan publiknya adalah hasil yang diinginkan dari model ini. Model ini sering digunakan oleh organisasi bisnis atau non-profit yang menemukan diri mereka dalam situasi konflik. Model ini mencoba untuk menemukan solusi yang saling menguntungkan untuk masalah.